Tuesday, September 28, 2010

Ingin jaga kualitas mutiara? Jangan bunuh donornya! But how?

Kualitas mutiara sangat tergantung dari kondisi donor. Donor yang baik dipercaya akan menghasilkan mutiara yang baik pula. Dalamm proses penyisipan inti mutiara, potongan kecil mantel donor akan turut disisipkan dan menempel pada inti yang disisipkan terdahulu. Mantel (disebut juga saibo) inilah yang akan membungkus inti dang menghasilkan lapisan mutiara. Nah, kualitas mutiara (warna, kilau, bentuk mutiara, ukuran, kontur permukaan) dipercaya berasal dari donor yang disisipkan. Sehingga kesalahan pemilihan donor akan berimbas pada kualitas mutiara yang dihasilkan.
Sayang sekali dalam setiap operasi penyisipan inti mutiara, donor harus dibunuh. Dengan demikian, donor yang berperan dalam menghasilkan mutiara kualitas baikpun tak bisa digunakan lagi. Harapannya, apabila donor itu dibiarkan hidup maka kemungkinan penggunaan donor untuk operasi berikutnya terbuka lebar. Sang donor bisa saja dijadikan sebagai brood-stock (induk) untuk menghasilkan anakan kerang donor yang baik.
Salah satu cara untuk mempertahankan donor adalah dengan mencoba penggunaan mantel hasil regenerasi. Mantel hasil regenerasi ini akan menginformasikan donor mana yang bisa dipakai untuk keperluan broodstock. Penelitian yang dilakukan pada Pinctada maxima menghasilkan suatu terobosan baru dalam budidaya mutiara. Ternyata mantel kerang mutiara P. maxima bisa dipotong dan dijadikan saibo tanpa harus membunuh kerangnya. Bagian mantel yang dipotong akan bertumbuh dengan sendirinya dan menutup luka potongan. Bahkan untuk ukuran potongan sebesar 10 x 30 mm akan sembuh total dalam waktu 3 bulan saja. Hasil ini membuka peluang dalam budidaya mutiara untuk mencegah donor dibunuh dan juga sekaligus mengoptimalkan bagian mantel yang dipotong untuk dipakai dalam kegiatan penyisipan inti mutiara. Informasi yang didapatkan dari potongan mantel tersebut akan menjadi dasar bagi pelaku usaha budidaya mutiara untuk memilih donor mana yang berperan aktif pada pembentukan mutiara bernilai tinggi.
Informasi selengkapnya bisa diunduh dari artikel berjudul: Regeneration of excised mantle tissue by the silver-lip pearl oyster, Pinctada maxima (Jameson).

© 2010, N. Gustaf F. Mamangkey

Penggunaan anastesi untuk menghasilkan mutiara

Kegiatan operasi mutiara (saat panen) di Perusahaan Atlas South Sea Pearl, Bali

Penggunaan anastesi dalam kegiatan budidaya kerang mutiara pernah dirintis sebelumnya. Maksud dari penggunaan anastesi ini semula ditujukan untuk membius kerang agar trauma pasca operasi penyisipan inti bisa ditekan. Namun, ternyata proposal ini sepertinya terlupakan. Kemungkinan permasalahannya terletak pada efisiensi waktu aplikasi anastesi. Karena tentu saja dalam operasi skala besar (puluhan sampai ratusan ribu kerang) dibutuhkan wadah yang besar untuk menampung kerang juga jenis anastesi yang efektif dalam namun tidak merugikan.

Atas alasan ini sehingga penelitian uji anastesi yang efektif dilakukan terhadap salah kerang mutiara Pinctada maxima. Hasilnya, ternyata setidaknya ada 3 jenis anastesi yang efektif dipakai untuk membius kerang mutiara P. maxima, masing-masing: 2-Phenoxyethanol pada konsentrasi 3mL/L, Propylene Phenoxytol pada konsentrasi 2.56mL/L dan Bensocaine pada konsentrasi 1200mg/L. Ketiga jenis anastesi ini diharapkan akan berperan penting dalam menekan trauma pasca operasi yang bisa berdampak pada pembentukan mutiara kualitas buruk bahkan sampai pada kematian kerang mutiara itu sendiri.

Artikel yang menginformasikan tentang hal ini bisa diunduh di: http://dx.doi.org/10.1016/j.aquaculture.2008.12.008

© 2010, N. Gustaf F. Mamangkey

Monday, May 10, 2010

Produksi Mutiara Laut Selatan tahun 2010

Sebuah analisis.

Produksi Mutiara Laut Selatan Indonesia saat ini mencapai 26% dari jumlah produksi Mutiara Laut Selatan dunia. Demikian Siaran Pers yang disampaikan Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Soen`an H. Poernomo dan diaminkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Dr. Fadel Muhammad. Sebuah kabar menarik dalam perkembangan pasar mutiara budidaya dunia. Tentu saja terdapat sekitar 74% Mutiara Laut Selatan masih dikuasai negara lain. Setidaknya terdapat Australia, Filipina, Myanmar dan Jepang sendiri di dalamnya. Selama ini Australia adalah pesaing utama produser Mutiara Laut Selatan baik secara kuantitas bahkan kualitas. Rivalitas Indonesia dengan Australia bahkan dengan Filipina makin meningkat belakangan ini.

Kelemahan Indonesia (bila bisa dikatakan demikian) adalah hampir 90% usaha budidaya dikuasai oleh perusahaan asing. Kondisi ini tentu saja tak menjadikan budidaya mutiara sebagai budidaya rakyat. Tidak sama dengan beberapa hewan budidaya potensial lainnya seperti ikan, misalnya.

Indonesia juga bercita-cita bahwa akan merengkuh 50% pasar Mutiara Laut Selatan dunia. Dengan menawarkan usaha budidaya mutiara ini ke rakyat, plus sinergi usaha dengan pembentukan Pearl Center yang menyuplai ilmu dan teknologi budidaya moderen cita-cita ini barangkali tak akan tetap tinggal sebagai angan belaka. Setidaknya langkah ini akan mengawali usaha berbasis kajian ilmiah seperti di negara-negara maju.

Setidaknya terdapat beberapa kendala untuk menjadikan usaha mutiara menjadi usaha rakyat. Diantaranya adalah kualitas produksi Indonesia masih cenderung di bawah produksi Australia, dan sebuah kendala utama mengapa usaha ini belum merakyat: kredit usaha. Harus diakui kendala kredit dari bank memang masih cukup berat. Keadaan ini memang dianggap 'wajar' apabila rakyat akan mengadopsi sepenuhnya cara budidaya perusahaan. Sebuah rekayasa model budidaya sangat diperlukan sehingga momok modal tinggi dan high risk akan teratasi bila usaha ini diadopsi rakyat. Menjadikan usaha ini feasible di mata bank dan di mata rakyat sendiri.


© 2010, N. Gustaf F. Mamangkey

Sunday, August 02, 2009

Budidaya kerang mutiara

Sebagaimana namanya, mutiara hasil budidaya melewati serangkaian proses dengan campur tangan manusia. Walaupun sebagian besar waktu pembentukan mutiara budidaya berada di dalam kerang, namun manusia berperan penting dalam meyakinkan bahwa mutiara di dalam kerang itu terbentuk sesuai keinginannya. Sejak proses penyisipan bahkan jauh sebelum proses ini berlangsung, untuk meyakinkan bahwa mutiara budidaya terbentuk dengan baik, kerang-kerang yang layak disisip telah diseleksi dengan baik. Walaupun toh pada akhirnya, sampai saat ini, produksi mutiara hasil budidaya kelas terbaik masih sangat minim dibandingkan dengan kelas di bawahnya.

Alam menyediakan bibit kerang mutiara budidaya. Bibit kerang mutiara ini dikumpulkan dengan menggunakan perangkap-perangkap larva (kolektor) yang diletakkan di laut. Material dan model kolektor ini bervariasi. Material kolektor bisa berasal dari alam seperti sabut kelapa dan ijuk maupun buatan seperti kain dan plastik. Sementara modelnya bervariasi dari bentuk sapu sampai ke bentuk panel. Prinsipnya adalah menyediakan substrat atau tempat untuk menempel bagi larva kerang mutiara yang bermetamorfosis menjadi spat. Namun demikian, bukan hanya spat kerang mutiara saja yang menempel di koletor ini, namun bisa saja organisme lainnya. Kolektor-kolektor ini digantung pada longline atau sarana apung lainnya. Lamanya perendaman sebenarnya tergantung dari tingkat pertumbuhan spat yang mencapai ukuran yang bisa dikenal sehingga bisa dibedakan dengan spat kerang jenis lain. Secara teoritis, perendaman bisa lebih dari 2 bulan tergantung jenis kerang yang akan dibudidayakan. Kolektor kemudian dibersihkan dari jenis kerang lain dan organisme pengotor lainnya (biofouling) sehingga memungkinkan spat bertumbuh dengan leluasa. Setelah itu, jenis yang akan dibudidayakan diambil dengan hati-hati karena kondisi mereka sangat rentan. Mengingat mereka menempel dengan bysus sehingga pengambilan spat adalah dengan memotong bysusnya bukan dengan menarik keluar spat itu dengan paksa. Mereka juga rentan terhadap perubahan suhu dan lamanya mereka terekspos di luar air. Kerang muda ini dipindahkan ke kotak panel yang memiliki ruang leluasa bagi mereka untuk bertumbuh. Lewat pemahaman ini, pengetahuan akan sebaran jenis atau spesies kerang mutiara di perairan sangat dibutuhkan sebelum memutuskan untuk membuat usaha budidaya kerang mutiara yang membutuhkan suplai bibit dari alam.

Seiring dengan meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi, kerang mutiara budidaya saat ini mengalami pergeseran dari mencari bibit di alam ke bibit hasil hatchery. Beberapa negara mulai mengembangkan program selektive breeding yaitu pada prinsipnya menyeleksi kerang yang memiliki karakter bagus untuk dijadikan induk. Karakter bagus dalam hal ini dititik beratkan pada melihat pertumbuhan kerang dibandingkan kerang seusianya, morfologi dari cangkang dan warna nacre (MoP) kerang. Mengingat tujuan kebanyakan budidaya komersial dari kerang mutiara adalah memproduksi mutiara bulat, sehingga bentuk morfologi sepasang cangkang yang menciptakan ruang yang besar dan leluasa pada bagian internalnya, menjadi salah satu pertimbangan untuk memproduksi anakan kerang host (kerang yang akan disisipkan inti mutiara). Sementara kerang yang memiliki warna dan kondisi MoP terbaik dijadikan sebagai induk untuk memproduksi saibo, mengingat saibo sangat menentukan kualitas mutiara yang dihasilkan.

Dalam proses perbanyakan dengan sistem hatchery. Induk kerang mutiara biasanya diseleksi apabila kondisinya sudah mencapai matang gonad. Caranya adalah dengan membuka cangkang dengan shell opener dan memeriksa bagian gonad dengan terlebih dahulu mengibaskan insang yang menutupi areal bagian dalam kerang. Gonad biasanya langsung terlihat pada kerang matang gonad saat insang dikibaskan karena bagian gonad ini memakan tempat yang cukup besar dengan warnah cerah mencolok. Untuk kerang betina biasanya warna gonadnya adalah krim cerah sedangkan jantan adalah putih. Untuk membedakan gonad kedua kelamin kerang memang diperlukan latihan yang berulang-ulang mengingat kadangkala warna gonad jantan terlihat menyerupai warna betina, atau sebaliknya.

lanjutan menyusul....
© 2009, N. Gustaf F. Mamangkey

Thursday, March 06, 2008

Sistem grading atau pengujian kualitas mutiara


Small South sea pearls (Gustaf's Collection)

Penentuan kualitas mutiara didasarkan pada standar kelas mutiara, namun secara umum mutiara ditentukan oleh: 1) ukuran mutiara, dimana makin besar ukurannya makin mahal. Perbedaan harganya bahkan sangat besar apabila ukuran diameter mutiara sudah berada di atas 7 milimeter, 2) bundar tidaknya mutiara, mutiara bundar cenderung disukai dengan demikian harganya cenderung lebih mahal, namun ada juga bentuk-bentuk tertentu seperti bentuk air mata yang juga diminati konsumen mutiara, 3) lustre mutiara, istilah untuk menggambarkan daya pantul mutiara terhadap obyek atau cahaya, 4) permukaannya tidak cacat, goresan atau bercak di permukaan menurunkan kualitas mutiara, dan 5) warna mutiara, warna pink banyak disukai orang Amerika, orang Eropa cenderung menyukai warna krem dan perak, orang Timur Tengah lebih banyak memilih warna krem dan emas sebagaimana juga orang Amerika Latin.

Beberapa langkah sebelum pengujian mutiara adalah dengan meyakinkan bahwa mutiara itu palsu atau tidak? Karena harga mutiara relatif mahal sehingga kemungkinan pemalsuan juga dilakukan.Banyak cara yang dilakukan manusia untuk menghasilkan mutiara yang serupa dengan aslinya. Bahannya pun bervariasi dari jenis batuan tertentu, kaca, plastik, dan bahkan bagian dari cangkang kerang. Mutiara juga disortir apakah mutiara itu terbungkus nacre (nacreous) atau tidak (non nacreous)? Apakah mutiara itu terbentuk alami atau hasil budidaya? Mutiara yang terbungkus nacre adalah mutiara yang umum beredar di pasaran dan mayoritas adalah mutiara hasil budidaya. Sangat kecil kemungkinan mutiara alami (dan terbungkus nacre) beredar di pasaran dengan harga murah. Sayangnya, masih sangat sulit membedakan antara mutiara yang tak terbungkus nacre dengan mutiara yang dibentuk dari cangkang kerang, karena keduanya memiliki komposisi yang sama.Namun peminat mutiara tanpa nacre memang masih sedikit disamping selama ini kegiatan budidayanya baru ddijajaki (khusus beberapa mutiara eksotis dari beberapa siput). Parameter tambahan lain yang jadi bahan pertimbangan pemilihan mutiara adalah dari mana mutiara itu berasal. Apakah mutiara itu adalah mutiara air tawar atau mutiara air laut? Pengelompokkan juga terjadi dalam produk mutiara laut, apakah mutiara itu adalah mutiara Akoya atau South sea atau Tahiti (yang beberapa kalangan juga menggolongkan sebagai bagian dari mutiara south sea)? Pengetahuan ini memang dibutuhkan mengingat mutiara air tawar relatif lebih murah dibandingkan mutiara air laut. Bahkan untuk mutiara air laut juga terdapat pengelompokkan harga menurut jenis mutiaranya, mutiara Akoya relatif lebih murah dibandingkan mutiara Tahiti dan apalagi South sea. Perbandingan harga mutiara dengan kualitas kilau yang sama antara mutiara Akoya dan South sea (misalnya) bisa sangat jauh apalagi dibandingkan antara mutiara South sea dan mutiara air tawar. Indonesia semestinya bersyukur karena mutiara South Sea banyak diproduksi dari perairan Indonesia. Walaupun sejauh ini nilai kualitas mutiara yang diproduksi masih lebih rendah dengan jenis mutiara sama yang diproduksi Australia.

Setelah melewati beberapa proses di atas, mutiarapun diuji menurut sistem grading yang berlaku. Ada dua pemahaman atau aliran yang selama dipakai untuk kualifikasi kelas mutiara: AAA-A (AAA kualitas terbaik, A kualitas buruk) dan A-D (A kualitas terbaik, D kualitas buruk). Sayang sekali fleksibilitas masih sangat tinggi dalam pengkategorian kelas mutiara. Pemahaman setiap orang berbeda-beda dalam menempatkan kelas mutiara dengan karakteristik tertentu ke kategori yang disarankan. Sederhananya, pihak X mengkategorikan sebuah mutiara memiliki kualitas AAA namun pihak Y mengkualifikasinya dalam kategori AA, dst. Bahkan ada penjual mutiara yang menambah-nambahkan dengan mengkategorikan mutiaranya sebagai AAAA atau AAA+ sehingga bahkan untuk dua aliran grading di atas (AAA-A dan A-D) sering diubah sekehendak hati. Kualifikasi menurut AAA-A adalah kualifikasi yang terbentuk lebih dahulu. Sistim kualifikasi ini banyak dipakai untuk mengkualifikasi mutaira Akoya dan mutiara air tawar. Mutiara akoya adalah mutiara air laut hasil budidaya pertama (lihat artikel lainnya). Sementara sistem kualifikasi A-D lebih dikenal sebagai sistem kualifikasi Tahitian karena awalnya dipakai untuk kualifikasi mutiara Tahiti dan akhirnya South Sea. Namun, kualifikasi AAA-A juga bukan hanya untuk mutiara Akoya dan mutiara air tawar tapi juga sering diaplikasikan ke jenis mutiara lain (Tahiti dan South sea).

Secara detail, kualifikasi mutiara menurut sistem AAA-A adalah sebagai berikut (sumber: http://www.pearl-guide.com/pearl-grading.shtml)

  • AAA: Mutiara kualitas terbaik, tanpa bercak. Sangat berkilau dan setidaknya 95% permukaan tak cacat.
  • AA: Sangat berkilau dan 75% permukaan tak cacat.
  • A: Mutiara perhiasan kelas terendah, kilau kurang dan >25% permukaan mutiara bercacat

Sedangkan sistem A-D adalah sebagai berikut:

  • A: Mutiara kualitas terbaik, sangat berkilau, sedikit cacat <10%>
  • B: Sangat berkilau atau kilau sedang. Terlihat sedikit cacat namun tak lebih 30% dari luas permukaan
  • C: Kilau sedang, cacat permukaan tak lebih 60%
  • D: Memiliki cacat sedikit namun tak dalam dan tak lebih 60% dari luas permukaan

Sekali lagi, kedua sistem kualifikasi mutiara ini sangat terbuka akan interpretasi mengingat banyak faktor lain yang juga menjadi bahan pertimbangan dalam uji kualitas mutiara.
© 2007, N. Gustaf F. Mamangkey

Sunday, February 11, 2007

Areal kumpulan kerang mutiara di dunia

Setidaknya ada tiga kawasan yang memiliki kumpulan kerang mutiara laut dan menjadi areal pencarian mutiara alami. Mereka adalah, daerah Teluk Persia, Selat Manaar di Srilanka dan perairan Australia utara. Namun, sebaran kumpulan kerang mutiara laut mulai dari Laut Merah ke arah timur sampai ke Pasifik. Selain ketiga tempat yang terkenal, kawasan kumpulan kerang mutiara juga ditemukan ada di daerah perairan Burma, Selat Malaka, Laut Arafura, Laut Sulu sampai ke perairan Jepang, dan di negara-negara pasifik selatan. Beberapa tempat juga ditemukan di Amerika tengah dan utara seperti di Panama, kepulauan Margarita Venezuela sampai ke perairan Mexico.

Teluk Persia
Kawasan kumpulan mutiara di daerah ini telah dikenal sejak 2000 tahun sebelum masehi. Areal yang paling terkenal adalah di sekitar Bahrain. Areal ini menjadi daerah ekonomis penting bagi masyarakat sekitar sebelum adanya tambang minyak. Jenis kerang mutiara yang tersebar di kawasan ini adalah Pinctada radiata. Perbandingan mutiara yang ditemukan dan jumlah kerang mutiara yang adalah sekitar 1 : 500. Ukuran mutiara yang ditemukan biasanya kurang dari 1 grain (=50 mg), sangat jarang ditemukan mutiara dengan ukuran lebih dari 12 grain. Metode pengumpulan kerang mutiara dilakukan secara tradisional dengan melilitkan tali sebagai penahan dan mereka menyelam dengan tubuh telanjang. Diperkirakan, tradisi menyelam ini tidak memiliki banyak perubahan sejak areal kumpulan kerang mutiara ditemukan. Mereka hanya dibekali penjepit hidung dan tas tali yang digantung di lehernya. Kegiatan penyelaman ini berangsur-angsur menghilang sejak sebelum perang dunia kedua dan berakhir di tahun 1950-an. Kegiatan ini berhenti sejak ladang-ladang minyak ditemukan.

Selat Manar, Srilanka
Tempat ini dikenal kira kira 500 tahun sebelum kawasan di Teluk Persia ditemukan. Selat ini memisahkan antara Dataran India dan Srilanka. Kelompok kerang mutiara di kawasan ini adalah Pinctada radiata. Sejak zaman penjajahan Inggris kontribusi kawasan ini cukup tinggi. Metode penyelaman juga dilakukan secara tradisional dan dalam keadaan telanjang. Sayang sekali, kegiatan penyelaman ini makin berkurang apalagi sejak terjadi pemberontakan di awal tahun 1980 an.

Australia Utara & Indonesia
Kawasan ini merupakan areal tempat hidup kerang mutiara. Sepanjang pantai utara Australia, ke utara di perairan Arafura, Indonesia (Dobo) dan ke arah timur melewati Selat Torres, selat yang memisahkan Australia dan pulau Papua. Titik-titik kumpulan kerang mutiara di daerah ini ditemukan sekitar pertengahan abad ke 19 sampai awal abad ke 20. Jenis kerang pada umumnya adalah Pinctada maxima. Kawasan Dobo adalah kawasan terkenal sehingga mutiara yang dihasilkan dari daerah ini disebut mutiara Dobo. Sementara di kawasan Australia, beberapa titik merupakan areal kumpulan kerang mutiara yang banyak seperti di Shark Bay dan Thursday Island. Jumlah penyelam yang mati di kawasan ini termasuk tinggi, umumnya akibat serangan hiu.

© 2007, N. Gustaf F. Mamangkey

Kerang penghasil mutiara

Pada prinsipnya, moluska bercangkang berpeluang menghasilkan mutiara secara alami. Namun tidak semua kerang bisa menghasilkan mutiara yang bagus dan memiliki nilai beli yang lumayan. Kerang penghasil mutiara umumnya berasal dari famili Pteriidae, namun yang umum dikenal hanya jenis-jenis tertentu seperti gold atau silver-lip pearl oyster (kerang mutiara bibir emas atau bibir perak) Pinctada maxima, black-lip pearl oyster (kerang mutiara bibir hitam) Pinctada margaritifera, Akoya pearl oyster (kerang mutiara Akoya) Pinctada fucata dan the winged-pearl oyster (kerang mutiara bersayap) Pteria penguin. Semua anggota famili ini hidup di laut. Sedangkan moluska lain penghasil mutiara yang sejauh ini dikenal berasal dari kelompok abalone dan beberapa gastropoda lain serta beberapa jenis kerang bivalvia air tawar.

Setiap jenis kerang mutiara menghasilkan mutiara dengan spesifikasi yang berbeda. Pinctada maxima menghasilkan mutiara relatif lebih besar dari semua jenis kerang penghasil mutiara, berwarna perak, emas dan krem. Jenis ini banyak dibudidayakan di Indonesia, Birma, Thailand dan Australia. Sedangkan kerang jenis Pinctada margaritifera merupakan primadona negara-negara pasifik selatan. Mutiara yang dihasilkannya bervariasi dari warna krem sampai warna hitam. Warna hitam merupakan warna yang diminati pelanggan mutiara dunia saat ini. Dengan demikian harganya sangat mahal. Diameter mutiara yang dihasilkan umumnya lebih kecil daripada yang diproduksi Pinctada maxima. Sementara Pinctada fucata adalah jenis yang banyak dibudidayakan di Jepang, dan Pteria penguin tidak banyak dibudidayakan karena sejauh ini hasilnya diperuntukkan hanya pada kalangan tertentu mengingat bentuk mutiara yang dihasilkannya umumnya tidak bundar.

© Gustaf Mamangkey 2006

Sekolah mutiara ke Jepang Inilah polemik permutiaraan Indonesia. Indonesia yang menghasilkan jenis mutiara kualitas wahid " South ...