Wednesday, June 14, 2017

http://news.kkp.go.id/index.php/presiden-kirim-anak-nelayan-sekolah-ke-jepang-belajar-mutiara/
Sekolah mutiara ke Jepang
Inilah polemik permutiaraan Indonesia. Indonesia yang menghasilkan jenis mutiara kualitas wahid "South Sea Pearl" atau mutiara laut selatan sepertinya hanya menyandang namanya saja. Selebihnya dipegang oleh perusahan pemodal asing yang cukup banyak menempati setiap sudut pulau perairan Indonesia dengan mengandalkan perairan Indonesia sebagai tempat usahanya namun pelit mewariskan ilmunya kepada anak bangsa. Maklumlah bisnis adalah bisnis.

Langkah Presiden yang ingin menyekolahkan anak-anak Indonesia ke Jepang untuk menjadi teknisi mutiara adalah jawaban betapa susahnya mempelajari cara insersi inti mutiara. Padahal bisnis ini sudah ada sejak tahun 1920 di perairan Indonesia yang dimotori perusahan asing (Perusahan Jepang). Dan konon menjadi perusahan produksi mutiara pertama di dunia yang berada di luar Jepang. Bahkan hingga saat ini perusahan asing masih mendominasi bisnis mutiara di Indonesia. Keuntungan yang didapat mereka dari bisnis ini sudah jauh dari kata terhitung. Lantas, mengapa Presiden harus menyekolahkan anak-anak ke Jepang? Bukankah beliau bisa "memaksa" perusahan yang bergerak di Indonesia mengajari pekerja Indonesia mereka?

Ada beberapa alasan saya pesimis:

1. Bisnis mutiara Indonesia menggunakan kerang Pinctada maxima yang ukurannya besar dengan cara spesifik sementara anak Indonesia di Jepang akan mempelajari hal serupa pada kerang kecil Pinctada imbricata (P. fucata) yang memiliki anatomi sedikit berbeda

2. Tak banyak perusahan yang terbuka apalagi di negaranya sendiri. Wong di Indonesia saja mereka tak terbuka apalagi di negaranya. Jepang terkenal dengan "Diamond policy" nya di bidang mutiara yang sampai tahun 1990-an terpaksa mem-pelit kan diri untuk membagi ilmunya karena diatur dengan kesepakatan mereka. Hingga saat ini hanya satu dua ilmu yang bisa dibagi kepada anak bangsa dengan cara yang baik, namun selebihnya terpaksa harus dipelajari sembunyi sembunyi.

3. Beberapa perusahan menggunakan tenaga insersi lokal tetapi mereka menjamin tenaga insersi itu sehingga tidak bisa pindah ke lain hati. Tapi sekali lagi, hanya beberapa perusahan dan itupun jarang yang berasal dari Jepang.

SOLUSI saya:
1. Presiden menggerakkan Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (ASBUMI) atau lembaga sejenis dan tokoh tokoh mutiara Indonesia untuk memformulisikan modul insersi inti mutiara (walau hal itu hanya sebagian kecil dari keseluruhan proyek budidaya mutiara).

2. Bermitra dengan perusahan mutiara asing yang bergerak di Indonesia agar bisa membina kelompok kelompok usaha budidaya mutiara masyarakat dengan standar jual global

3. Menyosialisasikan lewat sentra sentra potensial produksi mutiara karena tidak semua perairan berpotensi menghasilkan mutiara. bahkan ada perairan yang hanya spesifik pada bagian budidaya tertentu. (Misalnya, perairan yang hanya bagus untuk pembesaran kerang tapi tidak untuk mutiara, dst).

4. Membuat regulasi permutiaraan Indonesia termasuk dengan penerapan kualitas mutiara layak ekspor yang ketat sehingga bisa "memaksa" pembudidaya menghasilkan mutiara pasaran dunia yang bernilai tinggi.

5. Menjadikan Mutiara Laut Selatan benar-benar icon bangsa seperti mutiara hitam Tahiti. Ingat, secara umum Indonesia hanya kalah sama Australia lho dari segi kualitas mutiara alut selatan. Kalo kuantitas, Indonesia sejak dulu sudah jauh di atas ;)

Seperti yang diposting di Facebook: https://www.facebook.com/goestaf/posts/10155496309269216

© 2017, N. Gustaf F. Mamangkey

Monday, March 07, 2016

SKKNI Budidaya Mutiara

Sejak akhir tahun 2015 telah dilakukan serial kegiatan yang diinisiasi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia bekerjasama dengan Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (ASBUMI). Serial kegiatan ini adalah untuk mendapatkan formulasi Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) bagi para calon praktisi atau pekerja di bidang budidaya mutiara. Dengan adanya standar ini maka pekerja di bidang ini setidaknya akan menguasai modul-modul kerja dalam SKKNI sebelum mengirimkan aplikasi mereka atau istilah kerennya memiliki kompetensi di bidang budidaya mutiara laut selatan. Standar ini juga berperan sebagai filter bagi ekspatriat (karena telah digaungkan MEA sejak awal Januari 2016) agar setidaknya memiliki kompetensi atau lulus dalam uji kompetensi ini sebelum bekerja di Indonesia. Dengan adanya SKKNI juga mengindikasikan bahwa budidaya mutiara laut selatan ternyata bisa dipelajari dan dikembangkan dan
bukan hanya  sebagai kegiatan usaha turun-temurun karena memiliki kiat sakti-nya tersendiri. Semoga mutiara Indonesia lebih berkualitas di masa depan

© 2016, N. Gustaf F. Mamangkey

Wednesday, October 02, 2013

Again, its about the quality bro!

Dalam rangka hajatan 3rd Indonesian Pearl Festival, mutiara kedengarannya semakin menggaung. Horeee! Bahkan dari beberapa berita (salah satunya disini: http://www.antara.co.id/en/news/90862/indonesian-pearl-export-hits-beyond-us-29-million)  menyatakan tentang prestasi indonesia yang mengekspor 43% mutiara laut selatan di pasar dunia, yang artinya Indonesia mengklaim bisa mengekspor hampir setengah dari total volume mutiara ekspor dunia. Sebuah kebanggaan yang tiada taranya. Tapi, nanti dulu.... Ternyata dari jumlah volume ekspor yang hampir setengah volume ekspor dunia  itu, Indonesia (hanya) menempati ranking 9 pendapatan dari nilai ekspor yang didapatkannya. Indonesia berada di bawah Hong Kong, China, Jepang, Australia, Tahiti, USA, Switzerland and Inggris. What??? Koq bisa demikian? Mari kita lacak satu-satu dari keberadaan negara ini.
1. Hongkong: Hongkong memang bisa dimaklumi karena sebagai pengendali pasar mutiara dengan Auctions nya yang hebat mengundang buyers di seluruh dunia. Tapi, perairan lautnya tak melebih Laut Sulawesi
2. China, wow negara ini memang terkenal dengan mutiara air tawar. Kalau toh dia bermain dengan mutiara laut selatan, negara ini memang memiliki warga yang suka berkelana dan menanam saham di berbagai negara. Kan mutiara gak perlu diolah, cukup dimasukkan ke dalam tas dan dibawa ke negaranya sendiri dan dibuat Made in Hongkong, China, Japan dll.
3. Jepang. Jepang sih adalah negara pionir budidaya mutiara. Di samping Akoya adalah mutiara primadonanya tetapi mereka juga banyak "bermain" dengan mutiara laut selatan.
2. Australia. Negara ini dikenal sebagai kompetitor abadi di mutiara laut selatan bagi Indonesia, sayangnya sampai saat inipun Indonesia belum berhasil mengalahkan dia dari segi kualitas.
3. USA, Switzerland dan Inggris. Mereka semua mengandalkan pemasaran mutiara. Nilai mutiara diangkat tinggi-tinggi dan akhirnya dibeli lagi oleh orang Indonesia.

Kesimpulannya, Indonesia dikalahkan oleh beberapa negara yang tak punya areal yang besar untuk budidaya mutiara bahkan tak punya sama sekali. Kedua, walaupun nilai mutiara laut selatan tergolong paling tinggi dibandingkan jenis-jenis mutiara lainnya tetapi ternyata "punya"-nya Indonesia tak dihargai sebanding dengan (barangkali) Australia, Jepang dkk. Parahnya, ini digembar-gemborkan sebagai sebuah terobosan. Padahal, kita kalah, man! Kalah pada kualitasnya! Kalah jauuuuhhh... Kalau seandainya nilai dari 43% volume dinilai seperti yang diberikan ke mutiara yang berasal (atau dipaksa berasal dengan tulisan made in Hongkong padahal diproduksi di Indonesia) dari negara-negara tersebut, tak dipungkiri kita akan berada di posisi pertama. So, its about the quality bro! Jangan banyak bersorak dengan volume 43% padahal itu sebanding dengan 2% dari negara lain. Kondisi ini bisa diandaikan, Indonesia membawa satu truk mutiara semantara Australia hanya satu koper tetapi dibayar dengan harga yang sama...:)

© 2013, N. Gustaf F. Mamangkey

Monday, October 31, 2011

Mutiara dari siput

Banyak yang mengenal mutiara dari jenis kerang mutiara yang umum dibudidaya, namun ternyata masih banyak potensi mutiara yang bisa dihasilkan oleh moluska jenis lain termasuk jenis siput atau gastropod (klik link ini untuk infonya http://www.shanghaigems.com/site/natural-pearls/). Potensi ini memang sangat besar! Sebut saja mutiara dari Strombus gigas atau Melo melo dan dari jenis abalone, Haliotis iris yang terkenal di Selandia Baru. Jangan dulu bicara tentang mutiara 'paua' (paua pearls) yang dihasilkan Haliotis iris karena mutiara ini sudah bisa dibudidayakan. Kita bicara saja tentang siput Melo melo atau Strombus gigas (Queen conch) yang bisa menghasilkan mutiara dengan harga selangit atau mutiara yang dihasilkan oleh begitu banyak anonymous siput. Mengapa mereka hingga saat ini belum juga diupayakan pembudidayaannya? Alasannya sederhana, siput tak sama dengan kerang bivalva. Siput memiliki lobang yang kecil sehingga sangat susah untuk menyisipkan 'sesuatu' yang memancing terbentuknya mutiara seperti pada kerang bivalvia yang umum dibudidaya untuk menghasilkan mutiara. Caranya?.... Inilah yang sementara dilakukan oleh beberapa mahasiswa Ilmu Kelautan, Universitas Sam Ratulangi dalam menyelesaikan tugas akhir mereka dengan berbagai percobaan agar suatu saat mutiara budidaya bisa dihasilkan siput. Tantangannya ternyata bukan bagaimana memasukkan sesuatu lewat lobang yang sempit, tetapi bagaimana memancing tubuh lunak gastropod keluar seperti pada gambar.



© 2011, N. Gustaf F. Mamangkey

Tuesday, September 28, 2010

Ingin jaga kualitas mutiara? Jangan bunuh donornya! But how?

Kualitas mutiara sangat tergantung dari kondisi donor. Donor yang baik dipercaya akan menghasilkan mutiara yang baik pula. Dalamm proses penyisipan inti mutiara, potongan kecil mantel donor akan turut disisipkan dan menempel pada inti yang disisipkan terdahulu. Mantel (disebut juga saibo) inilah yang akan membungkus inti dang menghasilkan lapisan mutiara. Nah, kualitas mutiara (warna, kilau, bentuk mutiara, ukuran, kontur permukaan) dipercaya berasal dari donor yang disisipkan. Sehingga kesalahan pemilihan donor akan berimbas pada kualitas mutiara yang dihasilkan.
Sayang sekali dalam setiap operasi penyisipan inti mutiara, donor harus dibunuh. Dengan demikian, donor yang berperan dalam menghasilkan mutiara kualitas baikpun tak bisa digunakan lagi. Harapannya, apabila donor itu dibiarkan hidup maka kemungkinan penggunaan donor untuk operasi berikutnya terbuka lebar. Sang donor bisa saja dijadikan sebagai brood-stock (induk) untuk menghasilkan anakan kerang donor yang baik.
Salah satu cara untuk mempertahankan donor adalah dengan mencoba penggunaan mantel hasil regenerasi. Mantel hasil regenerasi ini akan menginformasikan donor mana yang bisa dipakai untuk keperluan broodstock. Penelitian yang dilakukan pada Pinctada maxima menghasilkan suatu terobosan baru dalam budidaya mutiara. Ternyata mantel kerang mutiara P. maxima bisa dipotong dan dijadikan saibo tanpa harus membunuh kerangnya. Bagian mantel yang dipotong akan bertumbuh dengan sendirinya dan menutup luka potongan. Bahkan untuk ukuran potongan sebesar 10 x 30 mm akan sembuh total dalam waktu 3 bulan saja. Hasil ini membuka peluang dalam budidaya mutiara untuk mencegah donor dibunuh dan juga sekaligus mengoptimalkan bagian mantel yang dipotong untuk dipakai dalam kegiatan penyisipan inti mutiara. Informasi yang didapatkan dari potongan mantel tersebut akan menjadi dasar bagi pelaku usaha budidaya mutiara untuk memilih donor mana yang berperan aktif pada pembentukan mutiara bernilai tinggi.
Informasi selengkapnya bisa diunduh dari artikel berjudul: Regeneration of excised mantle tissue by the silver-lip pearl oyster, Pinctada maxima (Jameson).

© 2010, N. Gustaf F. Mamangkey